Selasa, 12 Agustus 2014

firstmind

Sepasang laki-laki dan perempuan duduk diatas kursi taman di temani dengan guguran daun, tanda berlangsungnys musim gugur. Tidak perempuan bersuara juga tidak laki-laki berbicara. Hening dengan perasaan gelisah. Bukan kah harus bahagia? Seumur hidup mereka ini adalah hari pertama. Tidak itu senang haru canggung yang menutup rapat mulut. Berharap ada yang menyerah dan memulai pembicaraan. Tenyata tidak, sang perempuan sibuk memainkan cincin di jari manis kirinya, laki-laki sibuk dengan sepatu, dedaunan maupun rumput yang membuatnya selalu menduduk. Ada rasa penyesalan untuk tidak berbicara apapun. Setelah beberapa menit sang permpuan pun mengatakan “warna rambutmu bagus, warnanya sama dengan ku”




            Tahun 1938. Finland, kepulauan Anland Di sebuah Gereja kecil dengan dekorasi juntaian tanaman ranggas membentuk kalung bagi atap Gereja kecil itu. Hari minggu, hampir seluruh warag datang untuk mendengar khotbah dari pendeta Charles March yang telah melayani 18 tahun di kota itu. Laki-laki membawa anak beserta istrinya dan tentu saja orang tua mereka yang sudah renta datang bersama-sama. Terdengar sapaan dimana-mana. Semuanya tersenyum membalas sapaan ‘selamat pagi’ ‘selamat hari minggu’ ‘puji Tuhan hari ini kita bertemu’. Warga meninggalkan segala pekerjaan mereka, keluar dari rutinitas sehari-hari. Memakai pakaian panjang rapi dan sopan, beberapa perempuan sengaja menyisir rambutnya, tau-tau saja ada laki-laki yang melihatnya sewaktu menuju gereja. Para laki-laki memakai kemeja yang di dominasi oleh putih dan krem. Anak-anak memakai pakaian kesukaan mereka, mengajak teman yang lainnya untuk bermain sembari menunggu . Sungguh pemandangan yang menyejukkan hati. Jam menunjukan pukul 7.40 duapuluh menit lagi ibadah akan dimulai. Anak-anak masih senang bermain di sekitar taman gereja, para orang dewasa mulai memasuki gereja sembari memanggil anak mereka yang sedang bermain untuk berkumpul bersama dengan mereka. Pendeta Charles March yang telah besiap sebelumnya menyalami jemaat yang akan masuk ibadah, pendeta Charles March tinggal dibelakang, agak sedikt jauh dari gereja. Para jemaat sebenarnya telah menyarankan pendeta Charles March dan keluarganya untuk tinggal dan membangun rumah di daerah halaman gereja. Tapi pendeta Charles March tidak melakukannya, ia mengatakan ia tidak tega merusak taman perkarangan gereja, ia sungguh menyanyangi setiap tumbuhan di perkarang itu. pendeta Charles March tinggal dengan istrinya dan sepasang anak laki-lakinya. pendeta Charles March berasal dari bagian Wales datang sebagai missionaries, dan setelah ia menikah ia memberanikan diri untuk datang ketempat ini untuk mernyebarkan agama Kristen. Dimana ada yang mendukung pasi juga ada yang kontra, walaupun Charles dapat mengubah tempat itu, tentu saja ada kelompok yang kurang menyukainya. Tapi tidak terlalu dihiraukan karena hanya sebatas itu tidak melakukan tindakan yang lebih jauh.


            Waktunya telah tiba, berlangsung acara ibadah yang hikmat semua orang bahagia. Di mulai dengan nyanyian sampai kotbah, semua orang begitu sungguh-sunguh melaluinya. Suasana semakin mendukung ketika alagu puji-pujian dimainkan oleh anak pendeta yang pertama. Jerakan jemarinya dan ekspresi bermainnya membuat beberapa wanita muda mengaguminya,. Memainkan tuts-tuts dengan tepat tetap klasik tanpa ada perubahan. Tapi dengan ia memainkannya semua lagu klasik menjadi lebih menarik, wajahnya menggambarkan  ketegasan pria dewasa, dengan sedikit kumis tipis, perawakan tinggi tegap badan lelaki pekerja dengan otot yang mengeras saat ia menyandarkan tangannya sembari membaca alkitab yang  sedikit terawang dari cela kemeja putih gading miliknya saat ia meliaht kearah jemaat terlihat pula mata coklat mudanya yang begitu bersinar dan dalam seperti mengajak semua orang untuk lebih jauh mengenalnya tapi yang terutama rambut ikal coklat emas kehitaman diatas bahu miliknya yang sepertinya dirapikan hanya dengan jemari yang semakin menambah pesonanya. Tampan seorang pelayan gereja anak sorang pendeta taat, membuat ia menjadi urutan pertama untuk pasangan bagi wanita muda di kota itu, kenapa wnita muda? Walaupun perawakannya dewasa tetapi selera humor sedikit memelas serta kekanak-kanakan membuat wanita muda lebih menyukai keceriaan. Dengan perawakannya orang pasti mengira ia telah menginjak akhir 20an tapi kenyataannya ia masih bermur 24 tahun, Eliot namanya yang adalah anak kedua dari keluarga pendeta Charles. Anak yang pertama?  Alas yang duduk bersama rekan-rekan nya di sisi samping gereja. Lelaki tidak banya bicara cenderung pendiam bagi beberapa orang yang baru mengenalnya, sebenarnya ia seorang yang hangat penuh kejutan dan misteri yang tercampur menjadi satu. Orang yang pertama kali bertemu akan mendapatkan pandangan tajam darinya jika berkenalan dikuti senyuman tipis serta jawaban singkatnya menambah aura seperti tidak ingin didekati bertambah. Perawakannya hampir sama dengan adiknya hanya saja rambut Alas lebih panjang sedikit dibawah pundak lebih lurus dari adiknya serta kulitnya yang lebih pucat dari pada adiknya, yang menyiratkan pekerjaan nya sebagai pengajar sastra inggris yang selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan kota dan juga bekerja di sebuah rumah belajar untuk orang-orang terbelakang. Kepopularitasannya tentu saja di antara wanita dewasa yang ingin membangun rumah tangga. Mrs. Charles tentu seorang wanita cantik yang mewarisi kecatikannya kepada kedua anaknya, wanita pengertian mudah bergaul yang disenangi semua orang sedangkan ayahnya yang mewariskan tubuh sempurna sebagai laki-laki kepada anak-anaknya.