Sepasang
laki-laki dan perempuan duduk diatas kursi taman di temani dengan guguran daun,
tanda berlangsungnys musim gugur. Tidak perempuan bersuara juga tidak laki-laki
berbicara. Hening dengan perasaan gelisah. Bukan kah harus bahagia? Seumur
hidup mereka ini adalah hari pertama. Tidak itu senang haru canggung yang
menutup rapat mulut. Berharap ada yang menyerah dan memulai pembicaraan.
Tenyata tidak, sang perempuan sibuk memainkan cincin di jari manis kirinya,
laki-laki sibuk dengan sepatu, dedaunan maupun rumput yang membuatnya selalu
menduduk. Ada rasa penyesalan untuk tidak berbicara apapun. Setelah beberapa
menit sang permpuan pun mengatakan “warna rambutmu bagus, warnanya sama dengan
ku”
Tahun
1938. Finland, kepulauan Anland Di sebuah Gereja kecil dengan dekorasi juntaian
tanaman ranggas membentuk kalung bagi atap Gereja kecil itu. Hari minggu,
hampir seluruh warag datang untuk mendengar khotbah dari pendeta Charles March
yang telah melayani 18 tahun di kota itu. Laki-laki membawa anak beserta
istrinya dan tentu saja orang tua mereka yang sudah renta datang bersama-sama.
Terdengar sapaan dimana-mana. Semuanya tersenyum membalas sapaan ‘selamat pagi’
‘selamat hari minggu’ ‘puji Tuhan hari ini kita bertemu’. Warga meninggalkan
segala pekerjaan mereka, keluar dari rutinitas sehari-hari. Memakai pakaian
panjang rapi dan sopan, beberapa perempuan sengaja menyisir rambutnya, tau-tau
saja ada laki-laki yang melihatnya sewaktu menuju gereja. Para laki-laki
memakai kemeja yang di dominasi oleh putih dan krem. Anak-anak memakai pakaian
kesukaan mereka, mengajak teman yang lainnya untuk bermain sembari menunggu .
Sungguh pemandangan yang menyejukkan hati. Jam menunjukan pukul 7.40 duapuluh
menit lagi ibadah akan dimulai. Anak-anak masih senang bermain di sekitar taman
gereja, para orang dewasa mulai memasuki gereja sembari memanggil anak mereka
yang sedang bermain untuk berkumpul bersama dengan mereka. Pendeta Charles
March yang telah besiap sebelumnya menyalami jemaat yang akan masuk ibadah,
pendeta Charles March tinggal dibelakang, agak sedikt jauh dari gereja. Para
jemaat sebenarnya telah menyarankan pendeta Charles March dan keluarganya untuk
tinggal dan membangun rumah di daerah halaman gereja. Tapi pendeta Charles
March tidak melakukannya, ia mengatakan ia tidak tega merusak taman perkarangan
gereja, ia sungguh menyanyangi setiap tumbuhan di perkarang itu. pendeta
Charles March tinggal dengan istrinya dan sepasang anak laki-lakinya. pendeta
Charles March berasal dari bagian Wales datang sebagai missionaries, dan
setelah ia menikah ia memberanikan diri untuk datang ketempat ini untuk
mernyebarkan agama Kristen. Dimana ada yang mendukung pasi juga ada yang
kontra, walaupun Charles dapat mengubah tempat itu, tentu saja ada kelompok
yang kurang menyukainya. Tapi tidak terlalu dihiraukan karena hanya sebatas itu
tidak melakukan tindakan yang lebih jauh.
Waktunya telah tiba, berlangsung
acara ibadah yang hikmat semua orang bahagia. Di mulai dengan nyanyian sampai
kotbah, semua orang begitu sungguh-sunguh melaluinya. Suasana semakin mendukung
ketika alagu puji-pujian dimainkan oleh anak pendeta yang pertama. Jerakan
jemarinya dan ekspresi bermainnya membuat beberapa wanita muda mengaguminya,.
Memainkan tuts-tuts dengan tepat tetap klasik tanpa ada perubahan. Tapi dengan
ia memainkannya semua lagu klasik menjadi lebih menarik, wajahnya
menggambarkan ketegasan pria dewasa,
dengan sedikit kumis tipis, perawakan tinggi tegap badan lelaki pekerja dengan
otot yang mengeras saat ia menyandarkan tangannya sembari membaca alkitab yang sedikit terawang dari cela kemeja putih gading
miliknya saat ia meliaht kearah jemaat terlihat pula mata coklat mudanya yang
begitu bersinar dan dalam seperti mengajak semua orang untuk lebih jauh
mengenalnya tapi yang terutama rambut ikal coklat emas kehitaman diatas bahu
miliknya yang sepertinya dirapikan hanya dengan jemari yang semakin menambah
pesonanya. Tampan seorang pelayan gereja anak sorang pendeta taat, membuat ia
menjadi urutan pertama untuk pasangan bagi wanita muda di kota itu, kenapa
wnita muda? Walaupun perawakannya dewasa tetapi selera humor sedikit memelas
serta kekanak-kanakan membuat wanita muda lebih menyukai keceriaan. Dengan
perawakannya orang pasti mengira ia telah menginjak akhir 20an tapi
kenyataannya ia masih bermur 24 tahun, Eliot namanya yang adalah anak kedua
dari keluarga pendeta Charles. Anak yang pertama? Alas yang duduk bersama rekan-rekan nya di
sisi samping gereja. Lelaki tidak banya bicara cenderung pendiam bagi beberapa
orang yang baru mengenalnya, sebenarnya ia seorang yang hangat penuh kejutan
dan misteri yang tercampur menjadi satu. Orang yang pertama kali bertemu akan
mendapatkan pandangan tajam darinya jika berkenalan dikuti senyuman tipis serta
jawaban singkatnya menambah aura seperti tidak ingin didekati bertambah.
Perawakannya hampir sama dengan adiknya hanya saja rambut Alas lebih panjang
sedikit dibawah pundak lebih lurus dari adiknya serta kulitnya yang lebih pucat
dari pada adiknya, yang menyiratkan pekerjaan nya sebagai pengajar sastra inggris
yang selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan kota dan juga bekerja di
sebuah rumah belajar untuk orang-orang terbelakang. Kepopularitasannya tentu
saja di antara wanita dewasa yang ingin membangun rumah tangga. Mrs. Charles
tentu seorang wanita cantik yang mewarisi kecatikannya kepada kedua anaknya,
wanita pengertian mudah bergaul yang disenangi semua orang sedangkan ayahnya
yang mewariskan tubuh sempurna sebagai laki-laki kepada anak-anaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar